• Breaking News

    Monday, June 23, 2014

    Mengenal Lebih Jauh Negara Priyanka Chopra

    Assalamu'alaikum Juragan Juraganwati, kali ini ane bakalan ngelanjutin pembahasan tentang perekonomian Negara India. Negara yang berpopulasi terbanyak kedua di dunia. Walaupun Negara ini terbilang masih berkembang dan sudah tidak asing di dengar kegauangannya tapi masih banyak yang belum ente semua tau tentang Negara Bollywood ini. Now, ane bakal ngebahas lebih lengkap untuk mengenal India lebih jauh lagi. Disini ane akan membahas tentang peta perekonomian India, meliputi keadaan geografis, mata pencaharian, sumber daya manusia, investasi, pendapatan nasional, tingkat kemiskinan, hingga perkembangan dan pembangunan ekonomi. Jadi jangan kedip ya gan, ane jamin mata ente semua bakalan terbelanga liat postingan ane ini. In Sya Allah.
     
     

    Peta Ekonomi India

    Letak Geografis
     
    India adalah sebuah negara di Asia yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu milyar jiwa, dan adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis dengan luas wilayah 3.287.590 km². Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an. Ekonomi India adalah terbesar KEEMPAT di dunia dalam PDB, diukur dari segi paritas daya beli (PPP), dan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. India, negara dengan sistem demokrasi liberal terbesar di dunia, juga telah muncul sebagai kekuatan regional yang penting, memiliki kekuatan militer terbesar dan mempunyai kemampuan senjata nuklir.

    India terletak di Asia Selatan dengan garis pantai sepanjang 7.000 km, dan bagian dari anak benua India, India merupakan bagian dari rute perdagangan penting dan bersejarah. Dia membagi perbatasan dengan Pakistan, Republik Rakyat Cina, Myanmar. Banglades, Nepal, Bhutan, dan Afganistan. Sri Lanka, Maladewa, dan Indonesia adalah negara kepulauan yang bersebelahan.
     

    Mata Pencaharian




    Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat India. Limpahan lumpur sungai Indus telah memberikan kesuburan bagi tanah disekitarnya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerah pedalaman.

    Pembutan saluran irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukan bahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah padi, gandum, gul, kapas, teh dan lain-lain.


    Sumber Daya Manusia

    Populasi India diperkirakan sekitar 1.13 milyar jiwa, yang merupakan 1/6 dari penduduk dunia. Populasi India diperkirakan melebihi Tiongkok tahun 2030 dan akan menjadi negara terpadat di dunia. India memiliki lebih dari dua ribu etnis, dan agama-agama utama ada di India. Penduduk India menunjukkan perbedaan yang besar di segi keturunan dan kehidupan kebuayaan mereka. Dipercaya bahwa penduduk asli India berwarna kulit hitam, berpostur pendek dan berhidung lebar. Bahasa di India juga sangat beragam.

    Di India terdapat 18 bahasa resmi yang diakui oleh konstitusi dan terbagi atas dua kelompok besar. Pertama adalah, Indo-Arya yang merupakan cabang dari kelompok bahasa Indo-Eropa dan merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Asia Tengah yang sekarang dikenal dengan India. Kedua, Dravida yang merupakan bahasa asli India Selatan dan dipengaruhi oleh Sanskrit dan Hindi. Di India terdapat 1600 bahasa dan dialek berdasarkan sensus tahun 1991. Bagi kalangan terpelajar di India, bahasa Inggris merupakan bahasa utama, sedangkan bagi sebagian besar masyarakat India lainnya Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua setelah bahasa daerah.


    Investasi
    Dalam hal peran negara bagian dalam peran negara bagian dalam menarik investasi, Modi dicatat pernah menyatakan bahwa 30 negara bagian di India merupakan mitra dalam pelaksanaan kebijakan polugrinya dan ingin memberi kepercayaan kepada mereka dalam membina hubungan luar negeri yang menguntungkan. Ini merupakan peluang yang perlu dikaji dan dimanfaatkan dalam meningkatkan hubungan investasi dan perdagangan Indonesia dengan negara-negara bagian yang berpotensi.

    Dengan nilai perdagangan kedua negara mencapai 20 miliar USD pada 2012-2013, faktanya perdagangan telah tumbuh hampir 5 kali sejak kemitraan dengan Indonesia pada 2005 silam, dan berpotensi mencapai target nilai perdagangan 25 milyar USD pada tahun depan bila dapat memanfaatkan perkembangan mutakhir di India.

    Demikian juga di bidang investasi India di Indonesia yang rata-rata 5 milyar USD tiap tahun khususnya dengan peningkatan investasi di bidang otomotif, masih sangat berpeluang untuk diperbesar lagi mengingat adanya bonus demografi dan makin besarnya kelas menengah Indonesia.

    Pendapatan Nasional

    Negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-2 di dunia ini memiliki pendapatan per kapita yang kecil, yaitu $ 3.019. Sektor perekonomian andalan Negara yang disebut juga Hindustan ini meliputi pertanian, berlian, tekstil, teknologi informasi, dan kerajinan tangan. Salah satu sector terpenting yang banyak menymbang pendapatan Negara adalah bidang perfilman yang terkenal dengan nama Bollywood. Selain itu, India juga terkenal dengan budayanya yang sangat kuat.


    Kemiskinan

    Ada berbagai cara untuk memanipulasi angka kemiskinan. Salah satunya adalah mengutak-atik kriteria orang disebut miskin. Tindakan ini ternyata bukan cuma menjadi kebiasaan pemerintah Indonesia, tetapi rupanya juga dilakukan oleh pemerintah India.

    Baru-baru ini, pemerintah India dengan bangga menyebut bahwa angka kemiskinan telah menurun. Berdasarkan angka resmi, sepertiga (32%) dari 1,2 penduduk India masuk dalam kategori miskin. Sementara lembaga lain memperkirakan bahwa 77% rakyat India masuk dalam kategori miskin.
    Tetapi angka resmi pemerintah India itu bermasalah. Angka itu didapat setelah pemerintah India menetapkan kriteria baru tentang orang miskin: di bawah pendapatan 26 rupee (kira-kira $0.53) perhari untuk daerah pedesaan dan 32 rupee perhari untuk daerah perkotaan.
    Akibatnya: banyak orang yang semestinya dihitung miskin tidak masuk dalam daftar orang miskin versi pemerintah. Mereka pun tidak tercakup dalam program sosial yang sedang diluncurka oleh pemerintah.

    Seperti di Ibukota India, New Delhi, tempat dimana mal dan perbelanjaan baru sedang menjamur, terdapat pemukiman kumuh yang menjadi rumah bagi setidaknya 70 juta orang India.
    Di daerah perkampungan kumuh itu, ada banyak orang yang tidak masuk kategori miskin karena berpendapatan di atas 32 rupee (60 sen USD) per-hari.

    Salah satunya adalah Ram Niwas. Ia bekerja sebagai tukang sepatu selama 12 jam sehari dan enam hari seminggu. Ia pun mendapat penghasilan rata-rata 2 USD perhari. Tetapi sebagian besar penghasilan itu dikirim ke kampung halaman untuk membiayai istri dan tiga orang anaknya.

    “Mengambil 32 rupee sebagai patokan untuk menentukan garis kemiskinan jelas salah. Karena orang tidak bisa berbuat apa-apa dengan jumlah itu,” katanya kepada Russian Today.

    Dengan kriteria baru ini, angka kemiskinan di India benar-benar berkurang drastis dibanding 20 tahun yang lalu. Ketika itu angka kemiskinan diperkirakan mencapai separuh dari keseluruhan penduduk India.

    Para aktivis dan ekonomi mengkritik pedas kriteria baru ini. Bagi mereka, untuk biaya hidup di kota besar seperti di New Delhi, jumlah uang sebesar 32 rupee (60 sen USD) hanya cukup sesiung bawang, sebiji kentang, beras, satu pisang, satu pensil, satu aspirin, dan satu tiket bis kota.
    Dengan kriteria itu, rakyat pun tidak dijamin aksesnya terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya. Karenanya, banyak aktivis yang menyebut kriteria miskin versi baru itu sebagai “kriteria kelaparan”.

    Padahal, data lain menyebut bahwa separuh dari anak di bawah 5 tahun di India mengalami kekurangan nutrisi.

    Tetapi pemerintah India, dalam hal ini kementerian perencanaan, mengklaim bahwa penggunaan kriteria ini untuk memastikan bahwa seluruh rakyat paling miskin bisa tersentuh program pemerintah.


    Perkembangan dan Pembangunan


     
    Pertumbuhan ekonomi India untuk beberapa tahun setelah 1984 di tunjukkan pada Tabel I di bawah. Pertumbuhan ekonomi India yang rata-rata di atas 8,0% terjadi setelah tahun 2002. Pertumbuhan yang secara konsisten tinggi ini sebenarnya berkaitan erat dengan perkembangan sektoralnya dan dengan dengan langkah-langkah reformasi ekonomi yang telah dilakukan sejak tahun 1984.
    Tahun
    Pertumbuhan Ekonomi (%)
    1985
    4,5
    1986
    4,1
    1987
    3,6
    1988
    10,1
    1989
    6,7
    2000
    4,0
    2001
    5,9
    2002
    3,9
    2003
    8,6
    2004
    7,6
    2005
    8,2
    2006
    9,1
     
    Buah bibir dunia soal perekonomian yang berkembang pesat sekarang ini adalah China dan India. Namun jangan pernah lupa, dua negara itu juga sangat memberi perhatian dengan kehidupan di pedesaan, dan memberi perhatian pada pengembangan sektor pertanian. China tidak hanya piawai menghasilkan produk manufaktur murah tetapi juga sektor pertanian dengan kehadiran peneliti yang sudah banyak membantu sektor pertanian di negara berkembang lainnya.
     
    Hal serupa juga terjadi dengan India. Negara ini tak segan-segan bersuara lantang membela sektor pertanian dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Internasional (WTO). Dalam perundingan perdagangan dengan ASEAN, India juga tak mudah membuka pasarnya dari serbuan komoditas pertanian ASEAN. Alasannya, taruhannya adalah kepentingan rakyat banyak yang hidup di pedesaan.
    Pada saat pertemuan program PBB yang disusun dalam bentuk Millennium Development Goals (MDGs-21 April 2008) di Postdam-Jerman, Menteri perdagangan India, Kamal Nath dan Menteri Luar Negeri Brazil, Celson Amoroim, terpaksa meninggalkan ruang pertemuan di Potsdam itu. Hal ini disebabkan program PBB yang disusun dalam bentuk MDGs tersebut, yakni “sektor perdagangan adalah salah satu cara mengatasi kemiskinan global yang mendera 2 miliar penduduk dunia, dan semuanya tinggal di negara berkembang” tidak selaras (sama) dengan program yang diajukan oleh pihak negara maju yaitu Kepala Perwakilan Dagang AS Susan Schwab dan Ketua Komisi Perdagangan Uni Eropa (UE) Peter Mandelson.
     
    Negara maju dalam pertemuan di Postdam tersebut (diwakili AS dan Uni Eropa) menuntut negara berkembang membuka pasar. Namun di sisi lain AS dan Uni Eropa tak bersedia melakukan pemangkasan pada subsidi pertanian yang diberi kepada para petani mereka. Subsidi inilah yang hingga kini menghadang masuknya komoditas pertanian negara berkembang ke negara maju.
    “Tak berguna membahas masalah yang tidak menunjukkan kemajuan,” kata Menteri Luar Negeri Brazil, Amorim, yang juga disetujui oleh Kamal Nath (India). Kita memang harus memberikan jempol pada perlawanan India dan Brasil, dua negara yang memilih membela konstituen politiknya, yakni rakyat sendiri, ketimbang mengalah pada tekanan Barat. Mereka berpendapat “Jika dunia ingin menyaksikan kehidupan warga yang lebih seimbang secara ekonomi, maka dunia harus rela dengan sistem perekonomian global yang relatif berimbang. Untuk mewujudkan perekonomian global yang makin berimbang, maka sektor perdagangan, yang menjadi salah satu pilarnya, harus juga berimbang”.
     

    No comments:

    Post a Comment

    Pengikut

    About Me

    My Photo
    Sandy Widayanto
    Coretan seorang mahasiswa akuntansi yang bekerja untuk kuliah ..
    View my complete profile

    Total Pageviews